Di mana kekuatan saya? Tentunya pada pengalaman mengejar Nabi Musa di Jabal Musa hampir tiga tahun yang lalu. Wah! Mengejar Nabi Musa. Semacam saya pula yang terus mendakap Nabi Musa tatkala itu.
Justeru, puisi "Sejarah Nabi Musa" yang saya cipta lewat kengerian mengenal pengorbanan tekad Nabi Musa sebagai pesuruh Allah menyelami perit-jerih perjuangan sebagai seorang nabi yang ditugaskan Allah untuk menyebarkan dakwah kepada seluruh kaumnya. Maka dengan jelas, proses penciptaan karya ini tercipta. Hasilnya, pada 11 Mei 2008, Berita Minggu telah memilih karya ini untuk diterbitkan.
SEJARAH NABI MUSA
Lurah terapung damai
menyinari langit Subuh Saint Catherine
hingga tiba waktu menyaksikan
kudrat Tuhan bersatu di bawah cahaya kedamaian
yang tersusun kemas dalam catatan-Nya.
Dataran Sinai mencoretkan sejarah dalam-dalam
saat Musa berbicara dengan Tuhan
sebidang keemasan iman terjual oleh firman-Nya
dan sepelaung ketakwaan bermandi dalam sujud
yang panjang.
Siang malam munajatmu tak terhenti mengharap
keringat basah mencerakinkan malang Firaun
berpaut pada Tuhan yang Maha Esa.
Kedamaian tidak pernah ghaib dengan
sorotan sirah bersahut Asmaul Husna
hingga meniti lurah-lurah keinsafan
dan mendayung nur pengharapan
pada sebuah Hamam yang kudus.
Sudah puas kau menanggung beban
tika menyaksikan umatmu bergelora dendam
hingga genaplah dalil Tuhan
Yang Maha Mendamaikan mencoretkan
sebuah sejarah dalam al-Quran.
SYAFIQ ZULAKIFLI
Kaherah, Mesir.
(c) Berita Minggu, 11 Mei 2008

Puisi kedua saya adalah "Peringatan Kecil Dari Tuhan" yang disiarkan di Mingguan Malaysia.
Terkesan dan terdesak dengan Taufan Nargis yang sedang bergolak di Myanmar, maka saya terangsang untuk menulis satu puisi khusus untuk menggambarkan betapa Allah murka pada bumi Asia Tenggara. Sebabnya, tentunya kita akan dapat menyorot apa yang saya pamerkan di dalam puisi ini. Tentunya ini adalah satu puisi paling baharu yang saya tulis lewat beberapa hari yang sudah.
Apakah yang kita dapat rumuskan daripada kejadian Taufan Nargis di Myanmar? Apakah hanya kita berpeluk tubuh? Atau sedang kita elok dibuai perasan yang melampau.
Saya tidak pandai berhujah bicara. Langsung, saya menulis puisi ini kerana orang-orang Myanmar.
PERINGATAN KECIL DARI TUHAN
(untuk mangsa-mangsa Taufan Nargis, Myanmar)
Derita malang ini
merakam dunia yang degil
saat tenat menanggung beban
insan, haiwan dan ternakan
yang sombong pada Tuhan.
Meskipun telah kau soroti peristiwa lama
saat Aceh lakar cerita derita
tsunami mencurahkan seuncang kehidupan
dan Bangkahulu mentalkinkan segugus marah bumi
mengumpan dalam diam.
Sudah puas aku bekalkan;
khasiat satu peringatan
keramat satu perdamaian
zulmat satu penindasan
tanpa dendam persengketaan
kepadamu.
Nargis yang membakar ini
adalah ladang merah buat kami
yang mengerti segeluk panah
keparahan diri.
Tuhan Maha Mengerti
setiap hakikat ketulusan hati
manusiawi dan insani
agar bersatu di bawah cahaya keimanan
aman dan damai.
– SYAFIQ ZULAKIFLI
MUSTAFA NUHAS,
KAHERAH
Ulasan